<a href="http://www.clock4blog.eu">clock for blog</a><a href="http://www.clock4blog.eu">calendar widget for blog</a>

ShoutMix chat widget

Rabu, 25 April 2012

MAKALAH





KATA PENGANTAR 




Puji dan syukur saya hatukan kehadirat Allah SWT atas rahmat, nikmat dankaruiaNYA, karena dengan rahmat dan hidayahNYA saya dapat menyelesaikanmakalah pengelasan dari mata kuliah Teknik Pengelasan oleh Bapak Dodi YulantoS.T., M.T guna memperoleh salah satu prasyaratan pemberian nilai oleh mata kuliah bersangkutan.Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini adalah berkat bantuan, bimbingan dan dukungan dari semua pihak baik moril maupun materil. Padakesempatan ini dengan segala kerendahan hati, penulis menghaturkan rasa terimakasih kepada yang pihak-pihak yang telah membantu.Semoga amal kebajikan yang telah diberikan kepada penulis mendapat pahaladan mendapat amal yang di ridhoi oleh Allah SWT.Penulis menyadari bahwa karya sederhana ini masih jauh dari kesempurnaan,untuk itu segala saran dan kritik untuk perbaikan makalah ini akan penulis terimadengan senang hati dan yang terakhir. Semoga karya sederhana ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amien.














































Padang, 25 april 2012




penulis


DAFTAR ISI


Kata Pengantar...............................................................................................................1


BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang.........................................................................................................3
1.2Tujuan Penyusunan..................................................................................................3
1.3Teknik Penyusunan..................................................................................................4


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PengertianPengelasan……………………………………………………………..5
2.2 Cara Pengelasan dan Pemotongan…………………………………………………5
2.3 Proses Pengelasan…………………………………………………………………6
2.4Proses-proses Pengelasan………………………………………………………..10


BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan………………………………………………………………………17
3.2 Saran……………………………………………………………………………..17




















































BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Teknik pengelasan secara sedeerhana telah diketemukan dalam rentang waktuantara 4000 sampai 3000 SM. Setelah energi listik diergunakan dengan mudah,teknologi pengelasan maju dengan pesatnya sehingga manjadi suatu teknik yangmutahir. Hingga saat ini telah dipergunakan lebih dari 40 jenis pengelasan.Pada tahap-tahap permulaan dari pengembangan teknologi las biasanya pengelasan hanya digunakan pada sambungan-sambungan dari reparasi yang kurang penting. Tapi setelah melalui pengalaman dan praktek yang banyak dan waktu yanglama maka sekarang penggunaan proses-proses pengelasan dan penggunaankonstruksi-konstruksi las merupakan hal yang umum disemua negara di dunia.Terwujudnya standar-standar teknik pengelasan akan membatu memperluasruang lingkup pemakaian sambungan las dan memperbesar ukuran bangunankonstruksi yang dapat di las. Dengan kemajuan yang dapat dicapai sampai saat ini,teknologi las memegang peranan penting dalam masyarakat industri modren.Prosedur pengelasan kelihatannya sangat sederhana, tetapi sebenarnyadidalamnya banyak masalah-masalah yang harus diatasi dimana pemecahannyamemerlukan bermacam-macam pengetahuan. Karena itu didalam pengelasan, pengetahuan harus turut serta mendampingi praktek. Secara lebih terperinci dapatdikatakan bahwa perancangan konstruksi bangunan dan mesin dengan sambungan las,harus direncanakan pula tentang cara-cara pengelasan, cara pemeriksaan, bahan las,dan jenis yang akan digunakan, berdasarkan fungsi dan bagian-bagian bangunan ataumesin yang dirancang.
1.2 Tujuan Penyusunan


Berdasarkan pada rumusan masalah diatas, tujuan yang ingin dicapai dalam penyusunan ini adalah :
1.Untuk mengetahui pengertian pengelasan.
2.Untuk mengetahui cara pengelasan dan pemotongan.
3.Untuk mengetahui peralatan yang digunakan dalam proses pengelasan.




1.3 Teknik Penyusunan
Metode yang digunakan penulis dalam penyusunan karya ilmiah ini dengan menggunakan studi webset.






















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pengelasan


Definisi pengelasan menurut DIN ( Deutsche Industrie Normen) adalah ikatanmetalurgi pada sambungan logam atau logam paduan yang dilaksanakan dalamkeadaan lumer atau cair. Dengan kata lain, las adalah sambungan setempat dari beberapa batang logam dengan menggunakan energi panas. Dalam proses penyambungan ini adakalanya disertai dengan tekanan dan material tambahan (filler material ).


2.2 Cara Pengelasan dan Pemotongan
Sampai pada waktu ini banyak sekali cara-cara pengklasifikasian yangdigunakan dalam bidang las, ini disebabkan karena perlu adanya kesepakatan dalamhal-hal tersebut. Secara konvensional cara-cara pengklasifikasi tersebut pada waktuini dapat dibagi dua golongan, yaitu klasifikasi berdasarkan energi yang digunakan(sumber panas) dan klasifikasi berdasarkan cara kerja.Ditinjau berdasarkan sumber panasnya klasifikasi pengelasan dapat dibedakan tiga:
1.Mekanik 
2.Listrik 
3.Kimia


Berdasarkan cara kerjanya klasifikasi pengelasan dapat dibagi dalam tiga kelas utama yaitu : pengelasan cair, pengelasan tekan dan pematrian.
1.Pengelasan cair adalah cara pengelasan dimana sambungan dipanaskan sampaimencair dengan sumber panas dari busur listrik atau sumber api gas yangterbakar.
2.Pengelasan tekan adalah pcara pengelasan dimana sambungan dipanaskan dankemudian ditekan hingga menjadi satu.3. Pematrian adalah cara pengelasan diman sambungan diikat dan disatukan denganmenggunakan paduan logam yang mempunyai titik cair rendah.
Dalam hal ini logam induk tidak turut mencair.
2.3 Proses Pengelasan
Las gastungsten(Las TIG) adalah proses pengelasan dimana busur nyalalistirk ditimbulakan oleh elektroda tungsten (elektroda tak terumpan) dengan bendakerja logam. Daerah pengelasan dilindungi oleh gas lindung (gas tidak aktif) agar tidak berkontaminasi dengan udara luar. Kawat las dapat ditambahkan atau tidak tergantung dari bentuk sambungan dan ketebalan benda kerja yang akan dilas.Perangkat yang dipakai dalam pengelasan las gas
tungsten
adalah: 




  1. Mesin
Mesin las AC/DC merupakan mesin las pembangkit arus AC/DC yangdigunakan di dalam pengelasan las gas tungsten. Pemilihan arus AC atauDC biasanya tergantung pada jenis logam yang akan dilas.






2. Tabung gas lindung
Adalah tabung tempat penyimpanan gas lindung seperti argon dan heliumyang digunakan di dalam mengelas gas
Tungsten.


.
 

3. Regulator gas lindung
Adalah pengatur tekanan gas yang akan digunalan di dalam pengelasan gantungsten. Pada regulator ini biasanya ditunjukkan tekanan kerja dan tekanan gas didalam tabung.


4. Flowmeter untuk gas
Dipakai untuk menunjukkan besarnya aliran gas lindung yang di pakai didalam pengelasan gasTungsten


 

5. Selang gas dan perlengkapan pengikatnya
Berfungsi sebagai pengubung gas dari tabung menuju pembakar las.Sedangkan perangkat pengikat berfungsi mengikat selang dari tabung menuju mesinlas dan dari mesin las menuju pembakar las.


 
6. Kabel elektroda dan selang
Berfungsi menghantarkan arus dari mesin las menuju stang las, begitu jugaaliran gas dari mesin las menuju stang. Kabel masa berfungsi untuk menghantarkanarus ke benda kerja.
7. Stang las (welding torch)
Berfungsi untuk menyatukan system untuk menyatukan system las yang berupa penyalaan busur dan perlindungan gas lindung selama dilakukan pengelasan.
8. Elektroda tungsten
Berfungsi sebagai pembangkit busur nyala selama dilakukan pengelasan.Elektroda ini tidak berfugsi sebagai bahan tambah.


9. Kawat las
Berfungsi sebagai bahan tambah. Tambahan kawat jika bahan dasar yangdipanasi dengan busur tungsten sudah mendekati cair.


10. Assesories
 Pilihan dapat berupa system pendinginan air untuk pekerjaan pengelasan berat, rheostat kaki, dan pengatur waktu busur.


Las Tungsten
Gas Tungsten Arc Welding 
(GTAW) atau sering juga disebut
Tungsten Inert Gas
(TIG) merupakan salah satu dari bentuk las busur listrik (
 Arc Welding 
) yangmenggunakan inert gas sebagai pelindung dengan
tungsten
atau
wolfram
sebagaielectrode. Skema dari GTAW dapat dilihat dalam gambar dibawah. Penjelasan inidikerjakan secara manual maupun otomatis.


Gambar. Skema pengelasan (TIG (tungsten iner gas)Electrode pada GTAW termasuk elektode tidak terumpan
(non consumable)
 berfungsi sebagai tempat tumpuan terjadinya busur listrik. GTAW mampumenghasilkam las yang berkualitas tinggi pada hampir semua jenis logam mampu las.Biasanya ini digunakan pada
 stainless steel 
dan logam ringan lainnya sepertialuminium, magnesium dan lain-lain. Hasil pengelasan pada teknik ini cukup baik tapi membutuhkan kemampuan yang tinggi.Pada pengelasan TIG ini tenaga yang dibutuhkan adalah tenaga listrik baik ACmaupun DC. Tenaga listrik hanya digunakan sebagai pemanas dan hanya untuk membuat busur nyala pada elektoda, bagian-bagian pendukung lainya masih disuplaidari alat lain. Peralatan yang sering digunakan sebagai pendukung dari las TIG iniadalah tabung gas Argon maupun gas lain dapat melindungi proses pengelasan dari pengaruh udara luar


2.4 Proses-proses Pengelasana. Las listrik dengan elektroda berselaput (SMAW)


Las listrik ini menggunakan elektroda berelaput sebagai bahan tambahan.Busur listrik yang terjadi di antara ujung elektroda dan bahan dasar akan mencairkanujung elektroda dan sebagaian bahan dasar. Selaput elektroda yang turut terbakar akanmencair dan menghasilkan gas yang melindungi ujung elekroda kawah las, busur listrik terhadap pengaruh udara luar. Cairan selaput elektroda yang membeku akanmenutupi permukaan las yang juga berfungsi sebagai pelindung terhadap pengaruhluar.Perbedaan suhu busur listrik tergantung pada tempat titik pengukuran, misal pada ujung elektroda bersuhu 3400° C, tetapi pada benda kerja dapat mencapai suhu4000° C.KeuntunganSMAW adalah proses las busur paling sederhana dan paling serba guna. Karenasederhana dan mudah dalam mengangkut peralatan dan perlengkapannya, membuat proses SMAW ini mempunyai aplikasi luas mulai dari refinery piping hingga pipelines, dan bahkan untuk pengelasan di bawah laut guna memperbaiki struktur anjungan lepas pantai. SMAW bisa dilakukan pada berbagai posisi atau lokasi yang bisa dijangkau dengan sebatang elektroda. Sambungan-sambungan pada daerahdimana pandangan mata terbatas masih bisa di las dengan cara membengkokkanelektroda. Proses SMAW digunakan untuk mengelas berbagai macam logam ferrousdan non ferrous, termasuk baja carbon dan baja paduan rendah, stainless steel, paduan-paduan nikel, cast iron, dan beberapa paduan tembaga.KelemahanMeskipun SMAW adalah proses pengelasan dengan daya guna tinggi, proses inimempunyai beberapa karakteristik dimana laju pengisiannya lebih rendahdibandingkan proses pengelasan semi-otomatis atau otomatis. Panjang elektroda tetapdan pengelasan mesti dihentikan setelah sebatang elektroda terbakar habis. Puntungelektroda yang tersisa terbuang, dan waktu juga terbuang untuk mengganti–gantielektroda. Slag atau terak yang terbentuk harus dihilangkan dari lapisan las sebelumlapisan berikutnya didepositkan. Langkah-langkah ini mengurangi efisiensi pengelasan hingga sekitar 50 %.
Asap dan gas yang terbentuk merupakan masalah, sehingga diperlukan ventilasimemadai pada pengelasan di dalam ruang tertutup. Pandangan mata pada kawah lasagak terhalang oleh slag pelindung dan asap yang menutupi endapan logam.Dibutuhkan juru las yang sangat terampil untuk dapat menghasilkan pengelasan berkualitas radiography apabila mengelas pipa atau plat hanya dari arah satu sisi.


b. Las Listrik TIG
Pengelasan ini pertama kali ditemukan di USA (1940), berawal dari pengelasan paduan untuk bodi pesawat terbang. Prinsip : Panas dari busur terjadidiantara elektrode tungsten dan logam induk akan meleburkan logam pengisi kelogam induk di mana busurnya dilindungi oleh gas mulia (Ar atau He).Las listrik TIG (Tungsten Inert Gas= Tungsten Gas Mulia) menggunakanelektroda wolfram yang bukan merupakan bahan tambah. Busur listrik yang terjadiantara ujung elektroda wolfram dan bahan dasar merupakan sumber panas, untuk  pengelasan. Titik cair elektroda wolfram sedemikian tingginya sampai 3410° C,sehingga tidak ikut mencair pada saat terjadi busur listrik. Tangkai listrik dilengkapidengan nosel keramik untuk penyembur gas pelindung yang melindungi daerah lasdari luar pada saat pengelasan.Sebagian bahan tambah dipakai elektroda tampa selaput yang digerakkan dandidekatkan ke busur yang terjadi antara elektroda wolfram dengan bahan dasar.Sebagai gas pelindung dipakai gas inert seperti argon, helium atau campuran darikedua gas tersebut yang pemakainnya tergantung dari jenis logam yang akan dilas.Tangkai las TIG biasanya didinginkan dengn air yang bersirkulasi.Pembakar las TIG terdiri dari :


1) Penyedia arus,
2) Pengembali air pendingi,
3) Penyedia air pendingin,
4) Penyedia gas argon,
5) Lubang gas argon ke luar,
6) Pencekam elektroda,
7) Moncong keramik atau logam
,8) Elektroda tungsten,
9) Semburan gas pelindung.

 
Keuntungan : Digunakan untuk Alloy Steel, Stainless Steel maupun     paduan NonFerrous: Ni, Cu, Al ( Air Craft ). Disamping itu mutu las bermutu tinggi, hasil las padat, bebas dari porositas dan dapat untuk mengelas berbagai posisi dan ketebalan.Proses GTAW menghasilkan pengelasan bermutu tinggi pada bahan-bahan ferrousdan non ferrous. Dengan teknik pengelasan yang tepat, semua pengotor yang berasaldari atmosfir dapat dihilangkan. Keuntungan utama dari proses ini yaitu, bisadigunakan untuk membuat root pass bermutu tinggi dari arah satu sisi pada berbagai jenis bahan. Oleh karena itu GTAW digunakan secara luas pada pengelasan pipa,dengan batasan arus mulai dari 5 hingga 300 amp, menghasilkan kemampuan lebih besar untuk mengatasi masalah pada posisi sambungan yang berubah-ubah seperticelah akar. Sebagai contoh, pada pipa tipis (dibawah 0,20 inci) dan logam-logamlembaran, arus bisa diatur cukup rendah sehingga pengendalian penetrasi dan pencegahan terjadinya terbakar tembus
(burnt through)
lebih mudah dari pada pengerjaan dengan proses menggunakan elektroda terbungkus. Kecepatan gerak yanglebih rendah dibandingkan dengan SMAW akan memudahkan pengamatan sehinggalebih mudah dalam mengendalikan logam las selama pengisian dan penyatuan.Kelemahan.Kelemahan utama proses las GTAW yaitu laju pengisian lebih rendah dibandingkandengan proses las lain umpamanya SMAW. Disamping itu, GTAW butuh kontrolkelurusan sambungan yang lebih ketat, untuk menghasilkan pengelasan bermututinggi pada pengelasan dari arah satu sisi. GTAW juga butuh kebersihan sambunganyang lebih baik untuk menghilangkan minyak, grease, karat, dan kotoran-kotoran lainagar terhindar dari porosity dan cacat-cacat las lain. GTAW harus dilindungi secara berhati-hati dari kecepatan udara di atas 5 mph untuk mempertahankan perlindunganinert gas di atas kawah las.


c. Las Listrik Submerged (SAW)
Las listrik submerged yang umumnya otomatis atau semi otomatismenggunakan fluksi serbuk untuk pelindung dari pengaruh udara luar. Busur listrik diantara ujung elektroda dan bahan dasar di dalam timbunan fluksi sehingga tidak terjadi sinar las keluar seperti biasanya pada las listrik lainya. Operator las tidak perlumenggunakan kaca pelindung mata (helm las).
Pada waktu pengelasan, fluksi serbuk akan mencair dan membeku danmenutup lapian las. Sebagian fluksi serbuk yang tidak mencair dapat dipakai lagisetelah dibersihkan dari terak-terak las. Elektora yang merupakan kawat tampaselaput berbentuk gulungan (roll ) digerakan maju oleh pasangan roda gigi yangdiputar oleh motor listrik.Mesin las ini dapat menggunakan sumber listrik AC yang lamban dan DCdengan tegangan tetap bila menggunakan listrik AC. Perlu adanya pengaturankecepatan pengumpanan kawat las yang dapat diubah-ubah untuk mendapatkan panjang busur yang diperlukan. Bila menggunakan sumber listrik DC dengantegangan tetap, kecepatan pengumpanan dapat dibuat tetap dan biasanyamenggunakan polaritas balik (DCRP). Mesin las dengan listrik DC kadang-kadangdigunakan untuk mengelas pelat tipis dengan kecepatan tinggi atau untuk pengelasandengan elekroda lebih dari satu.Keuntungan Las Busur Rendam:Kualitas Las baik, Penetrasi cukup, Bahan las hemat, Tidak perlu operator terampil,Dapat memakai arus yang tinggi.Kerugian Las Busur Rendam:Sulit menentukan hasil seluruh pengelasan, Posisi pengelasan hanya horizontal, danPenggunaan sangat terbatas.KeuntunganProses las SAW ini dapat digunakan untuk mengelas carbon steel, low alloy steel,stainless steel dan beberapa paduan nikel tinggi. Proses ini digunakan secara luasuntuk membuat lapisan anti karat dengan menggunakan elektroda berbentuk lembaran(tebal 0,5 mm dan lebar 60 mm). Proses las ini dapat dikerjakan dengan arus lebihtinggi serta elektroda berganda, sehingga diperoleh laju pengisian dua hingga sepuluhkali lebih cepat dari pada SMAW. Karakteristik penetrasi yang dalam dari prosesSAW ini menyebabkan kampuh las bisa dibuat lebih sempit, sehingga dapatmengurangi jumlah lapisan yang diperlukan dan juga menghemat waktu pengelasan.Lapisan slag yang menyelimuti logam las memberikan perlindungan yang handalterhadap logam las cair, Sehingga menghasilkan deposit las bermutu tinggi.Sebagai sebuah proses las busur terbuka, SAW tidak menimbulkan radiasi tinggidimana hal ini memberikan kenyamanan kepada juru las. SAW adalah proses las
rendah hydrogen, tetapi kandungan hydrogennya tergantung dari tingkat kekeringandan jenis flux yang dipakai. Kekerasan di daerah HAZ cenderung lebih rendah karena panas masukan yang lebih tinggi menyebabkan laju pendinginan menjadi lebihlambat. Pada umumnya tampilan bead yang halus dari pengelasan SAW membuatinspeksi visual menjadi lebih mudah terhadap cacat-cacat las karena kesalahanoperator atau kesalahan fungsi peralatan.KelemahanDi dalam prakteknya, proses las SAW membutuhkan penanganan dan waktu pemasangan lebih banyak untuk meletakkan benda kerja sedemian rupa sehingga pengelasan dapat dilakukan dengan posisi datar. Terbatasnya pandangan mataterhadap busur dan kawah las selama pengelasan membuat proses ini menjadi lebihsulit dalam mempertahankan posisi las di atas sambungan, meskipun pada umumnyahal ini tidak menjadi masalah. Waktu pemasangan untuk pengelasan lebih lamadibandingkan dengan GMAW dan SMAW, sehingga proses ini tidak ekonomis pada pekerjaan-pekerjaan kecil. Apabila menggunakan panas masukan lebih besar, bisaterbentuk butiran-butiran kasar di daerah HAZ. Keadaan ini menyebabkan hilangnyasifat impact, yang pada beberapa aplikasi tidak diperbolehkan. Pada pengelasandengan lapisan banyak, harus dipilih kombinasi kawat/flux yang sesuai sehinggadapat mencegah pembentukan unsur Mn dan Si pada logam las, karena unsur-unsur ini akan menaikan kekerasan, menurunkan ketangguhan, dan menimbulkan masalahretak pada
 sour service.


d. Las Listrik MIG
Seperti halnya pad alas listrik TIG, pad alas listrik MIG juga panasditimbulkan oleh busur listrik antara dua electron dan bahan dasar. Elektrodamerupakan gulungan kawat yang berbentuk rol yang geraknya diatur oleh pasanganroda gigi yang digerakkan oleh motor listrik. Gerakan dapat diatur sesuai dengankeperluan. Tangkai las dilengkapi dengan nosel logam untuk menghubungkan gas pelindung yang dialirkan dari botol gas melalui slang gas.Gas yang dipakai adalah CO2 untuk pengelasan baja lunak dan baja. Argonatau campuran argon dan helium untuk pengelasan aluminium dan baja tahan karat.Proses pengelasan MIG ini dadpat secara semi otomatik atau otomatik. Semi otomatik dimaksudkan pengelasan secara manual, sedangkan otomatik adalah pengelasan yang
seluruhnya dilaksanakan secara otomatik. Elektroda keluar melalui tangkai bersama-sama dengan gas pelindung.KeuntunganProses pengelasan GMAW dapat dikerjakan secara semi-otomatis atau otomatis. Asapdan percikan las pada GMAW hubungan singkat lebih sedikit dibandingkan denganSMAW, juga tidak ada slag yang harus dibersihkan setelah pengelasan selesai.Kecepatan pengelasan dan laju pengisian sama atau bisa lebih besar dari padaSMAW. Larutan logam las umumnya lebih rendah karena penetrasi GMAW lebihdangkal. Dengan panas masukan rendah dan penetrasi yang dangkal, logam-logamtipis lebih mudah disambung dan sambungan yang memiliki celah root lebih lebar akan lebih mudah dilas. Pada fabrikasi pipa-pipa di bengkel, root pass bermutu tinggidapat dikerjakan lebih cepat pada berbagai posisi dan pada umumnya dengan biayalebih rendah.GMAW

 
 spray transfer dan globular transfer mempunyai kawah las yang lebih mudahdilihat, sama halnya dengan las busur teknik hubungan singkat (hort circuiting arc) tetapi tanpa slang. Karena tidak ada flux dan relatif sedikit jumlahdeoxidizer yangdiberikan pada kawat, lebih sedikit pekerjaan membersihkan yang diperlukan setelah pengelasan selesai. Keseragaman panjang busur dipertahankan dengan cara membuatsumber listrik memiliki tegangan konstan. Proses las GMAW mempunyai laju pengisian lebih besar pada pengelasan paduan-paduan ferrous dan non-ferrous. Prosesini cocok dipergunakan pada las kampuh dan pengelasan untuk membuat lapisan antikarat pada stainless steel, nickel based alloys dan paduan-paduan tembaga sepertialuminum bronze.Kelemahan.Peralatan las GMAW lebih mahal, dan lebih rumit dalam pemasangan dan perawatan,dibandingkan dengan SMAW. Biaya kawat las dan shielding gas bisa menjadi lebihmahal dibandingkan dengan elektroda terbungkus, tetapi hal ini bisa diimbangi karena produktivitas yang tinggi dan sedikitnya pemborosan.Shielding gas pada pengelasanGMAW dapat terganggu karena pengaruh tiupan angin, sehingga harus diambiltindakan pencegahan apabila kecepatan angin lebih dari 5 mph. Pelindung angin atautirai khusus dapat dipakai untuk menahan atau mengurangi tiupan angina, sehinggakecepatannya cukup rendah untuk menjaga shielding gas secara memadai.
Memperbesar aliran gas untuk mengimbangi pengaruh tiupan angin yang berlebihan,akan menimbulkan masalah lain yang lebih buruk, karena akan timbul turbulensidisekitar busur yang akan menarik udara disekitarnya.GMAW memerlukan ruang gerak yang lebih besar terhadap benda kerja karena pengaruh ukuranwelding gundan nozzle
. Pada umumnya alat pengumpan kawatharus ditempatkan sedekat mungkin dengan benda kerja.Short-circuiting welding  dapat dipakai untuk mengelas root passdengan carabutt weld  atau sambungan bercabang tetapi harus dikontrol ketat saat melakukan fill pass,karena ada resiko non-fusion atau cold lap . Ketika melakukan fill pass
pada pengelasan pipa dengan carabutt weld , pengelasan hanya dilakukan dengan cara lasnaik yaitu antara posisi jam 10 dan jam 2, dimana pipa bisa ditahan tetap oleh kuda-kuda penyangga (posisi 5G) atau diputar (1G). Proses pengelasan ini tidak cocok dikerjakan pada fillet weld apabila tebal logam lebih dari 1/4 inch, dan pada umumnyatidak digunakan untuk fabrikasipressure vessel , tangki atau palang-palang struktur. Lack of fusionyang terletak diantara lapisan-lapisan las sukar dideteksi denganradiographydan karena pengaruh kontrol yang buruk dari proses hubungan singkatini, masalah LOF menjadi cukup berat, sehingga membuat beberapa fabrikator meninggalkan proses pengelasan ini. Dibandingkan dengan proses las SMAW, pengelasan short-circuiting butuh kebersihan, dan kelurusan sambungan serta penggerindaan tack weld 
yang lebih baik guna mendapatkan hasil pengelasan root pass bermutu tinggi.LOF tidak akan menjadi masalah jika panas masukan dibuat lebih tinggi pada GMAWspray transfer atau globular transfer. Pada GMAW spray transfer, terdapat radiasi busur yang banyak. Hal ini tidak menyenangkan bagi juru las dan membuat proses inilebih cocok untuk las otomatis pada beberapa aplikasi. Pengelasan GMAWspraytransfer 
terbatas pada pengelasan posisi datar dan horizontal saja karena kawah las lebih besar.






















































BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Pengelasan menurut DIN (Deutsche Industrie Normen) adalah ikatanmetalurgi pada sambungan logam atau logam paduan yang dilaksanakan dalamkeadaan lumer atau cair. Berdasarkan cara kerjanya klasifikasi pengelasan dapatdibagi dalam tiga kelas utama yaitu : pengelasan cair, pengelasan tekan dan pematrian. Pada pengelasan TIG ini tenaga yang dibutuhkan adalah tenaga listrik baik AC maupun DC. Tenaga listrik hanya digunakan sebagai pemanas dan hanya untuk membuat busur nyala pada elektoda, bagian-bagian pendukung lainya masih disuplaidari alat lain. Peralatan yang sering digunakan sebagai pendukung dari las TIG iniadalah tabung gas Argon maupun gas lain dapat melindungi proses pengelasan dari pengaruh udara luar. Membuat proses SMAW ini mempunyai aplikasi luas mulai darirefinery piping hingga pipelines, dan bahkan untuk pengelasan di bawah laut gunamemperbaiki struktur anjungan lepas pantai.


3.2 Saran
Makalah ini diharapkan dapat berguna bagi masyarakat luas yang inginmengetahui tentang teknik pengelasan dan bermanfaat kita semua.




















































DAFTAR PUSTAKA
http://agamweld.blogspot.com/2009/06/pendahuluan-definisi-pengelasan-menurut.htmlhttp://muhadhi.blogspot.com/2009/03/pengertian-pengelasan.html

http://teknik-pengelasan.blogspot.com/






Senin, 02 April 2012

Job sheet las


 

A. Kompetensi

Siswa mampu mengelas dengan mesin las las listrik pada berbagai posisi dan bentuk las yang merupakan dasar untuk pekerjaan struktur dan nonstruktur teknik sipil.


 

B. Standar kompetensi

Setelah melakukan kegiatan praktik diharapkan siwa memiliki keterampilan:

1. Menyeting peralatan las sampai siap untuk melakukan pengelasan sesuai dengan standar

2. Menyetel besar arus sesuai dengan ukuran elektroda dan posisi pengelasan.

3. Menghidupkan las listrik dengan cara yang benar.

4. Mengakiri pengelasan dengan benar.

5. Membuat alur las dengan posisi flat.

C. Alat dan Bahan

1. Alat

(1) kabel las, (2) pemegang elektroda, (3) palu las, (4) sikat kawat, (5) klem masa, (6) penjepit, (7) helm las, (8) sarung tangan, (9) baju las atau apron, (10) sepatu las, (11) kamar las, Mesin las AC, tang, dan (12) meja las.

2. Bahan

(1) Pelat ukuran 4mm x 60mm x 100 mm

(2) Elektrode D = 2,6 mm

D. Keselamatan Kerja

1. Pakailah pakain kerja praktik yang telah ditentukan.

2. Pakailah alat pelindung badan, tangan, wajah dan mata serta sepatu karet.

3. Hindari memegang benda kerja dengantangan telanjang.

4. Bekerjalah dengan penuh konsentrasi, jangan bersendagurau.

5. Jangan coba-coba diluar prosedur pengelasan yang benar.

6. Pada waktu nyala las, mata harus dilindungi dengan kacamata las listrik


 


 


 


 

E. Langkah Kerja

1. Siapkan bahan yang dperlukan.

2. Seting peralatan las sehingga pengelasan dapat dioperasikan.

3. Stel arus listrik sesuai dengan elektroda yang digunakan.

4. Letakan benda kerja pada meja kerja dengan posisi yang kokoh

5. Ambil sebuah elektroda dan jepitlah dengan benar pada pemegang elektroda.

6. Hidupkan mesin las dengan memutar tombol "on" pada mesin las (putar kekanan).

7. Pegang pemegang elektroda yang sudah ada elektrodanya.

8. Sentuhkan elektroda pada ujung kiri benda kerja seperti menyalakan korek api, dan jaga jarak antara elektroda dengan benda kerja sedemikian sehingga busur listrik tetap hidup dan bersuara seperti orang menggoreng krupuk.

9. Ulangi langkah 8 sehingga anda familier menghidupkan busur las listrik.

10. Gantilah benda kerja lain yang masih bersih dan mulailah dengan membuat alur rigi-rigi las listrik posisi flat (pemegang elektoda berada di atas benda kerja).

11. Mulailah dari ujung kiri benda kerja untuk membuat rigi-rigi las.

12. Gerakan elektroda las dapat lurus atau bentuk spiral.

13. pada waktu akhir pengelasan posisi elektroda didekatkan lagi dan dengan cepat ditarik ke atas sehingga nyala busur mati.

14. Hilangkan terak las dengan menggunakan palu terak.

F. Lampiran

1. Gambar Kerja


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

2. Lembar Evaluasi

JOB 01.
LATIHAN LAS LISTRIK (MEMBUAT RIGI-RIGI LAS)

No

urut 

No siswa

Nama Siswa

Skor Maksimum pada Aspek: 

Total Skor 

1 

2 

3 

4 

5 

6 

7 

8 

10 

10 

10 

10 

10 

20 

20 

10 

1 

           

           

           

           

dst 

           

Keterangan Aspek:

1. Seting peralatan 5. Alur las lurus

2. Penyetelan arus listrik 6. Alur las lebarnya tetap

3. Menghidupkan busur las 7. Alur las padat

4. Akhir las-lasan 8. Alur las halus


 

3. Suplemen Teori

(a) Las (Welding)

    Banyak sekali macamnya las. Menurut Okumura dalam terjemahan Harsono (1981), pengelasan dibedakan menjadi tiga yaitu (1) las cair, (2) las tekan, (3) pematrian. Las cair dibedakan lagi menjadi (a) las busur,(b) las gas, (c) las listrik terak, (d) las listrik gas, (e) las termit, (f) las sinar elektron, (g) las busur plasma. Sedang las tekan dibedakan menjadi (a) las resistensi listrik, (b) las tekan gas,(c) las tempa, (d) las gesek, (e) las ledakan, (f) las induksi, (g) las ultrasonik. Sementara pematrian dibedakan menjadi (a) pembrasingan dan (b) penyolderan.

    Proses las busur (2) Submerged Arc Welding (SAW) disebut juga las busur terbenam, (3) Gas Metal Arc Welding (GMAW) disebut juga las busur logam gas, (4)

ada bermacam-macam pula, menurut Salmon dalam terjemahan Prihminto W (1990) empat macam yaitu (1) Shieided Metal Arc Welding (SMAW) disebut juga las busur logam terlindung,

Flux Cored Arc Welding (FCAW) disebut juga las busur berinti flux. Dalam uraian berikut ini dijelaskan Las SMAW (Shieided Metal Arc Welding) saja karena las ini yang sering digunakan. Sedang proses pengelasan lainnya silahkan membaca sendiri pada buku struktur baja oleh Salmon dkk.

(b) Las SMAW (Shielded Metal Arc Welding)

    Las SMAW merupakan tipe las yang tertua, paling sederhana, dan mungkin yang paling luwes. Las ini sering disebut sebagai proses elektroda batang manual. Diagram las SMAW terlihat pada gambar 1. Ada dua sumber tegangan yaitu AC dan DC. Sumber tegangan DC ada dua tipe rangkaian yaitu DCRP (Direct Current Reverse Polarity) dan DCSP (Direct Current Straght Polarity). Pada tipe DCRP, elektrode dihubungkan dengan kutub positif dan benda kerja dihubungkan dengan kutub negatif. Sedang pada tipe DCSP, elektrode dihubungkan dengan kutub negatif dan benda kerjanya dengan kutub positif. Panas yang dihasilkan tipe DCSP kira-kira 50% lebih cepat daripada tipe DCRP. Hal ini mengakibatkan kedalaman penetrasi benda kerja yang mencair pada tipe DCSP

lebih dalam daripada tipe DCRP. Sedang sumber tenaga AC memberi penetrasi pencairan benda kerja berada pada rerata tipe DCSP dan DCRP.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Posisi pengelasan

  1. Datar ( down hand )
  2. Vertikal
  3. Horizontal
  4. Overhead

(c) Peralatan Las Listrik

Alat yang diperlukan antara lain adalah: (1) kabel las, (2) pemegang elektroda, (3) palu las, (4) sikat kawat, (5) klem masa, (6) penjepit, (7) helm las, (8) sarung tangan, (9) baju las atau apron, (10) sepatu las, (11) kamar las, dan (12) meja las.

1. Kabel las

Kabel las biasanya dibuat dari tembaga yang dipilin dan dibungkus dengan karet isolasi. Ada tiga kabel las yaitu kabel elektroda, kabel masa, dan kabel tenaga.

2. Pemegang Elektroda

Alat ini digunakan untuk memegang elektroda las pada ujung yang tidak terbungkus. Peganganya dibungkus dengan bahan penyekat. Pada waktu tidak digunakan mengelas pemegang ini sebaiknya digantungkan pada gantungan dari bahan fiber atau kayu.

3. Palu las

Fungsi palu ini untuk menghilangkan terak yang membungkus rigi-rigi las. Pegangan palu las dibuat dari per baja agar dapat meredam pukulan palu las dengan terak.

4. Sikat kawat

Alat ini digunakan untuk membersihkan benda kerja yang akan dilas dan membersihkan terak las yang sudah lepas dari jalur las oleh pukulan palu las.

5. Klem masa

Klem masa dihubungkan dengan kabel masa dan dijepitkan pada benda kerja secara kuat. Klem masa biasanyan dibuat dari bahan yang mudah menghantarkan listrik, seperti tembaga. Permukaan benda kerja yang akan diklem harus bersih dari segala kotoran.

6. Penjepit

Alat ini digunakan untuk memegang benda kerja yang akan dipindahkan ke tempat lain.


 


 


 

7. Helm las

Alat ini berfungsi untuk melindungi kulit muka dan mata dari radiasi sinar infra merah dan ultraviolet. Sinar las tidak boleh dilihat secara langsung pada jarak kurang dari 15 m. Kaca pada helm las terdapat berbagai ukuran. Untuk arus listrik dari 75 sampai 200 Ampere digunakan kaca no 10.

8. Sarung tangan

Sarung tangan las terbuat dari bahan kulit atau asbes lunak agar memudahkan untuk memegang pemegang elekroda. Pada waktu mengelas harus memakai sepasang sarung tangan.

9. Baju las atau Apron

Bahan baju las yang digunakan sama dengan sarung tangan. Baju las yang lengkap dapat melindungi badan dan sebagian kaki. Pada posisi pengelasan diatas kepala, baju las harus digunakan, sedang pada posisi lainnya dapat digunakan apron.

10. Sepatu las

Sepatu las digunakan untuk melindungi kaki dari percikan api las. Bila tidak ada sepatu las, sepatu biasa yang tertutup seluruhnya dapat diigunakan juga.


 

11. Kamar las

Kamar las terdiri dari dinding penyekat yang tahan panas. Fungsi kamar las untuk melindungi pekerja disekitarnya agar tidak terkena sinar las dan percikan api las. Kamar las sebaiknya cukup ventilasi sehingga gas dari proses pengelasan dapat keluar dengan baik.

12. Meja las

Meja las terbuat dari besi dan bebas dari bahan-bahan yang mudah terbakar.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

4. Pelaksanaan Praktikum.


 

No


 

Kompetensi


 

Standar Kompetensi


 

Alokasi waktu


 

Keterangan

1

Siswa mampu mengelas dengan mesin las listrik pada berbagai posisi dan bentuk las.

1.menyeting peralatan las.


 

1 x 15 menit

 

2.menyetel besar arus sesuai dengan ukuran elektroda dan bahan yang digunakan.


 


 

1 x 15 menit

 

3.menghidupkan las listrik dengan cara yang benar.


 

1 x 15 menit

 

4.mengakhiri pengelasan dengan benar.


 

1 x 15 menit

 

5.membuat alur las dengan posisi datar

( down hand )


 

1 x 15 menit

 
   
   

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More